LIPI Belum Bisa Pastikan Anjing Mirip Serigala di Papua Jenis Baru

Anjing di Papua.
JAKARTA | Para peneliti mengklaim adanya spesies anjing baru di dataran tinggi Papua. Namun peneliti mamalia LIPI Prof Gono Semiadi belum bisa memastikan kebenaran klaim tersebut.

"Memang saya ada pernah melihat viral tentang 'oh ini anjingnya', melolong, memang sih dia melolong tetapi apakah dia juga menggonggong kita nggak tahu. Karena secara postur dia gempal, tetapi kegempalan itu seolah anjing domestik yang lepas ke hutan, sama seperti di Australia itu, dingo, anjing domestik yang liar kembali. Saya yang di Papua belum berani menjawab," papar Gono saat berbincang dengan detikcom, Kamis malam (12/10/2018).

Sekilas anjing di Papua tersebut memang terlihat seperti Dingo. Gono lalu mempertanyakan kemungkinan anjing itu peliharaan yang kemudian dilepasliarkan.

"Tegak, rahangnya lebar, itu bisa adaptasi lingkungan. Apakah itu jadi karakter utama, kita belum pernah lihat tengkoraknya, mengukur tengkorak, selain itu belum pernah mendapatkan kulitnya. Memang sih sekarang pakai molekuler bisa saja, tapi kalau kita dasar penetapan kami lebih masih pakai konservatif berdasarkan dari morfologinya," ujar Gono.

Proses penentuan spesies baru di Indonesia masih menggunakan cara lama yakni dengan melihat kondisi morfologisnya. Rata-rata untuk menentukan spesies baru butuh waktu antara 6 bulan sampai satu tahun.

"Spesies baru yang menetapkan kelompok ilmiah bukan LIPI. Peneliti dari spesimen, para peneliti menemukan spesimen terus ukur karakter analisa jadi suatu karakter permanen itu dibandingkan dengan kerabat terdekatnya, terus dianalisa statistik. Hanya spesies ini wajib dilempar ke komunitas para ahli, kalau anjing kelompok karnivor. Dengan mengirim ke jurnal ilmiah yang qualified, proses itulah dikirim ke yang super ahli lagi nanti diperdebatkan," papar Prof Gono.

Oleh peneliti dari Universitas Cenderawasih, anjing itu disebut sebagai Singing Dog karena belum memiliki nama ilmiah. Penelitian terhadap Singing Dog pertama kali dilakukan pada 2016. Peneliti datang dari dari Universitas Negeri Papua dan New Guenia Highland Wild Dog Foundation, James Mcintyre. Metode penelitian yang digunakan berupa observasi yang dilakukan secara langsung maupun menggunakan camera trap untuk mendeteksi keberadaan anjing-anjing daratan tinggi.

Penemuan spesies baru anjing dataran tinggi ini dipublikasikan pada saat pelaksanaan Internasional Conference On Biodiversity, Ecotourism and Cretive Economy atau ICBE 2018 di kantor Gubernur Papua Barat.

Para peneliti mengklaim adanya spesies anjing baru di dataran tinggi Papua. Namun peneliti mamalia LIPI Prof Gono Semiadi belum bisa memastikan kebenaran klaim tersebut.