TPN-PB Suruhan Minta Maaf Kepada TNI/POLRI

Rampasan Senjata akhirnya dikembalikan pada hari selasa, 07 Agustus 2018.
Paniai | Terkait dengan Penembakan dan perampasan senjata serta serahkan kepada TNI di Paniai. TPNPBnews akan memastikan dan beritahukan kepada publik. Karena ada kemungkinan lain sebuah skenario terjadi untuk tujuan tertentu dibalik penyerangan ini atau benar-benar tujuan perjuangan Papua Merdeka dari TPNPB. Sementara TPNPBnews kumpulkan data untuk memberitahukan kepada Publik.

Berikut news hasil wawancara suara wiyaimana Papua dibawa ini:

Menyikapi Peristiwa Perampasan dan Pengembalian Senjata dan Amunisi di Paniai.

Informasi yang kami berhasil wawancara bersama Pimpinan TPNP bahwa senjata dan amunisi yang berhasil rampas kemarin, akhirnya dikembalikan pada hari selasa, 07 Agustus 2018 ini hari. Pengembalian senjata dan amunisi tersebut dapat dilakukan karena desakan dari Kepala Distrik Wegemuka, Wegebino, dan seluruh kepala kampung, kedua distrik tersebut.

Kita semua tahu bahwa Gabungan Militer Indonesia dengan TPNPB adalah musuh abadi selagi bangsa papua masih dibawa penjajahan. Jika senjata yang dirampas itu dikembalikan tentu bagi setiap aktivis dan masyarakat pada umumnya perlu mempelajari situasi dengan bijak.

Beberapa anggota TNI yang dapat tangkap kemarin saja belum mengabiskan nyawa. Mereka pulangkan dengan pemukulan tanpa membalas kematian Alm. Leo M Yogi, dan Yulius Kauwadi Nawipa di Sanoba, Nabire. Kemudian empat pelajar tertembak dan dikuburkan di lapangan karel Gobai juga belum ada upaya upaya penyelesaian. Apa lagi TPN angkat senjata melawan Militer Indonesia sebagai aksi pembelaan demi rakyatnya di Paniai.

Masyarakat sipil dan anggota TPNPB yang korban sasaran dari kelompok kepentingan di Paniai. Kami himbau kepada setiap anggota TPN yang sudah tergabung kedalam kelompok pertahanan dari berbagai kampung jangan asal ikut perintah dari atasan tanpa mengikuti arah dan tujuan yang jalas.

Jiwa manusia yang sudah korban selama ini, menjadi kepentingan bagi pemerintah dan TPN di Paniai, Deiyai, Dogiyai dan wilayah Meepago pada umumnya. Perjuangan yang murni sudah dibawa pulang bersama orangtua para leluhur yang kini hanya teringat jasa-jasa perjuangan.

Kami aktivis sangat kesal atas pengembalian senjata dan amunisanya kepada Militer Indonesia. Alasan karena situasi daerah itu sehingga senjata dan amunisi dikembalikan itu bukan menjadi alasan yang tepat. Tuntutan kita sangat jelas seharusnya kepada pemerintah dan Aparat gabungan TNI.

Bagi kami aktivis menilai peristiwa penyerangan, perampasan senjata dan amunisi adalah bagian dari upaya pengalian isu supaya ada peratian dari pemerintah pusat atas kepentingan perut bagi setiap pemangku yang mengklaim sebagai Pemerintah dan TPNPB.

Kejadian seperti itu dinilai hanya mengotori cita-cita perjuangan bangsa papua yang hendak menentukan nasib sendiri. Seharusnya, TPNPB adalah pagar yang membela rakyatnya dari penindasan dan berbagai intimidasi teehadap rakyat sipil.

Kita lihat saja peristiwa penembakan terhadap Alm: Leo M Yogi dan Yulius Kauwadi Nawipa. Kemudian empat Pelajar yang ditembak oleh aparat gabungan itu TPN belum pernah balas hingga penuntasan kasus tersebut menjadi kalang kabut. Tidak ada pergerakan atau aksi TPNPB yang betul-betul termotivasi pada hal Ideologi.

Musuh abadi sebelumnya menjadi sahabat sejati. Siapa yang tidak tahu permainan kelompok opportunis yang memanfaatkan kepentingan sesaat pada dekade ini. Jika ada perang masyarakat dari Wegemuka dan wegebino bisa mengunsi mengungsi sementara waktu ke bagian Ugamoo, Ekadide, Agadide, Kebo, Paniai barat dan Yatamo. Namun, harapan rakyat kepada TPN hanyalah peratian dan harapan sesaat.

Oleh karena itu, kami dari aktivis pro merdeka yang termotivasi pada hal ideologi pembebasan bangsa tidak percaya sepenuhnya kepada aksi TPN Paniai yang mengklaim sebagai kelompok pertahanan. Memang kami sangat kesal atas informasi pengembalian senjata dan amunisinya kepada pihak musuh.

Biarlah perjuangan damai melaui doa dan puasa kepada Allah moyang dari rakyat sipil ini, menantikan intervensi dari Perserikatan bangsa-bangsa (PBB) melalui jalan demokrasi.


By: Suara Wiyaimana Papua (SWP)