KKSB dari kelompok Mapenduma, Sinak, Tiom, serta Tembagapura

Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi. (Dok: Pendam Cenderawasih)
Tembakan Aparat Keamanan untuk Pembalasan dari Aksi KKSB

JAYAPURA | Kodam XVII/Cenderawasih membantah jika aparat keamanan menembaki warga sipil dalam pemburuan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) di Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

“Aparat keamanan itu selalu membalas tembakan dari arah tembakan itu berasal. Kejadian terakhir pada 11 Juli lalu, saat satu buah helikopter milik polisi melakukan pendistribusian logistik dari Timika ke Kenyam, mendapatkan serangan tembakan dari arah Aluguru,” jelas Kapendam Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, Senin (16/7).

Kapendam menambahkan, jika ada laporan yang menyebutkan ada jatuh korban jiwa, pasti korban itu adalah KKSB yang melakukan serangan, bukan masyarakat biasa, karena aparat keamanan hanya membalas tembakan ke arah datangnya serangan. Apalagi Aluguru saat ini menjadi markas KKSB dari kelompok Mapenduma, Sinak, Tiom, serta Tembagapura.

“Pasukan TNI hanya bertahan di Nduga dan sampai saat ini tak ada penambahan pasukan. Sedangkan aparat kepolisian melakukan penindakan dan penegakan hukum terhadap pelaku penembakan pesawat dan pembantaian terhadap masyarakat,” jelasnya.

Sebelumnya, kata Aidi, ada keterangan Egianus Kogoya, ada empat unit pesawat helikopter milik TNI AU melaksanakan serangan udara dan pengeboman di Aluguru. Menurut Aidi, Egianus yang bersaksi dirinya melihat kejadian itu adalah hal yang wajar, sebab kelompoknya yang menjadi sasaran penegakan hukum oleh aparat keamanan.

“Egianus juga melaporkan kepada kelompok tertentu, ada tujuh orang anak buahnya hilang. Ini berarti tembakan yang dilancarkan oleh aparat keamanan tepat sasaran, sebagai konsekuensi atau risiko dari suatu aksi,” jelas Aidi.

Kapendam menyebutkan Egianus yang diduga sebagai pentolan kelompok salah satu KKSB jelas terbukti bersalah. Apalagi telah menggunakan senjata secara ilegal dan melakukan perlawanan terhadap kedaulatan negara.

“Apabila KKSB secara sukarela mau menyerahkan diri beserta senjatanya, maka akan dijamin keamanan dan keselamatannya. Tetapi apabila melawan, maka terpaksa harus ditempuh dengan kontak senjata, maka risikonya ditanggung oleh masing-masing pihak,” tambah Aidi.