Victor Yeimo Tertangkap Bersama Wanita di Hotel Mansapurani, Sentani

Victor Yeimo Tertangkap Bersama Wanita di Hotel
Victor Yeimo.
SENTANI | Polisi Indonesia, Rabu (21/10) kemarin menangkap Victor F. Yeimo, Aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang namanya masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) versi Polda Papua sejak Mei 2009 lalu karena dianggap melakukan tindakan makar yang mengarah kepada separatisme lantaran bersama teman-temannya gencar mengkampanyekan hak-hak hidup Orang Asli Papua di atas tanah Papua.

Victor ditangkap ketika berada di kamar nomor 03 Hotel Mansapurani, Jl. Yabaso, Sentani bersama seorang wanita bernama Mei Merahabia. Belum jelas, apakah wanita tersebut merupakan kekasihnya, wanita penghibur atau seorang aktivis KNPB.

“Victor ditangkap saat Polres Jayapura sedang melakukan operasi pekat yang dimulai pukul 22.00,” kata AKBP Mathius Fachiri, Kapolres Jayapura usai mengantar Victor dan Mei ke tahanan Polda Papua. Fachiri menjelaskan, pihaknya memerintahkan anak buahnya menangkap Victor setelah mendapat informasi dari petugas hotel bahwa ada seseorang yang wajahnya mirip Victor Yeimo.

Dari tangan Victor, Polisi menyita 1 tas noken warna merah, hijau dan kuning, 1 speaker mini USB, 1 micro SD adaptor tanpa memori, 2 HP, 1 roll kain pembalut, 1 tas noken kecil gambar bendera bintang kejora, KTP Vickto Yeimo, 1 flash disk, foto Vicktor Yeimo, STNK mobil, tempat memori card dan sebuah buku catatan kecil.

Saat ini Victor sedang diperiksa secara intensif oleh penyidik Polda Papua untuk diproses lebih lanjut. “Kawan Victor jelas akan dituduh melakukan tindak pidana makar, separatis dan melakukan penghasutankarena aktivitas KNPB yang memperjuangkan hak-hak hidup orang asli Papua dianggap mengganggu ketenangan warga pendatang dan dunia usaha mereka di Papua,” jelas seorang aktivis KNPB. Hotel Mansapurani merupakan sarang intelijen Indonesia yang hampir semua petugas disana adalah mata-mata Polisi dan Tentara. Di Hotel ini, pada tahun 2003, atas kerjasama dengan Kopasus, petugas hotel berhasil membunuh Mark Worth, seorang pembuat Film Dokumenter asal Australia yang baru saja selesai membuat Film Dokumenter tentang Perjuangan Papua Merdeka berjudul “The Land of Morning Star”.(cr7/cr4).